Oleh: ainurbayinah | 18 Januari 2011

“Kampanye Anti Nyontek”

Pagi ini, saya tiba di kampus tempat saya bekerja lebih awal. Belum genap pukul 08.00. Udara masih dingin. Rerumputan yang terguyur hujan tadi malam menambah teduh kampus kami yang asri. Satu dua mahasiswa sedang duduk-duduk di beranda. Mempersiapkan bahan ujian yang mungkin nanti ditanyakan. Mulai hari ini hingga dua pekan mendatang, kampus kami memang akan melaksanakan ujian akhir semester gasal. Suatu perhelatan yang cukup penting untuk para mahasiswa. Terutama bagi mereka yang mendapat beasiswa. Harapan nilai yang baik tentu menjadi idaman. Sebab bila tidak, bisa jadi beasiswa mereka dihentikan.

Mulai beranjak siang, rekan-rekan kantor sudah berdatangan. Demikian pula mahasiswa. Nampak lengkap memenuhi setiap sudut kampus. Sebagian menyempatkan sholat dhuha terlebih dahulu. Letak masjid kampus kami yang tepat berada di depan halaman kampus, memudahkan kami menjalankan ibadah sunah ini.

Saya pun demikian. Setelah menyalakan komputer dan bersiap. Segera langkah kaki diayunkan menuju masjid. Pemandangan hiruk pikuk mahasiswa mengalihkan perhatian saya. Beberapa dari mereka dengan semangatnya menempelkan spanduk-spanduk anti mencontek di dinding-dinding pengumuman kampus. Bahkan ada spanduk besar yang mengajak ikut serta dalam kampanye ini dengan membubuhkan tanda tangan arti setuju. Beberapa slogan yang mereka buat di antaranya : “Peduli teman BUKAN saat ujian”, “Beasiswa diberikan bukan untuk mencontek”, “Mencontek benih korupsi”, dst.

 

Hal ini mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat kali pertama gerakan ini hendak digulirkan rekan-rekan organisasi mahasiswa di kampus kami. Seorang senior saya di jajaran akademik sempat mempertanyakan urgensi kegiatan ini. “memang di kampus kita masih ada yang mencontek?”, tanya beliau. Saya sendiri sangat paham mengapa pertanyaan ini keluar. Meski sebagian dianggap menyepelekan oleh junior-junior saya kala itu.

Alasannya mungkin sederhana. Dari keseharian mahasiswa misalnya dapat dilihat, tidak ada yang berani mengakui sesuatu yang bukan miliknya. Sebut saja kasus bila ada helm yang tertinggal, atau terlupa, tergeletak di bawah pohon, di emperan masjid atau kelas; uang, jam tangan, flashdisk, dsb. Seperti tidak perlu CCTV… Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami nikmat untuk merasakan indahnya jujur itu…

Meskipun memang tidak semua sesempurna itu. Mungkin memang tidak semua sempurna. Di langkah kami yang sedang belajar beriman, kampanye seperti ini nampaknya memang dibutuhkan. Bukan sekadar karena ada satu dua orang yang belum selurus semangatnya dalam memanifestasikan ajaran Islam dalam kehidupan. Melainkan memang sebagai manusia kita butuh diingatkan. Bukankah seringkali kejahatan terjadi bukan sekedar kemauan, namun juga karena ada kesempatan dan lingkungan yang membentuknya? Saat ini mungkin pembentukan lingkungan itulah yang hendak kami harapkan membentuk pribadi-pribadi kami

Kasus gayus, misalnya, sedikit banyak memperlihatkan kepada kita bagaimana ketidakjujuran telah membudaya secara sistemik di negara kita. Bila tidak dari sekarang kita membenahi diri dan generasi kita dengan budaya yang baik.. mungkin hal ini akan terus berlanjut menjadi permasalahan bangsa yang tiada akhir.

Maka dari itu, sekecil apapun kiprah kita. Sedikit apapun perbuatan kita. Selama itu adalah untuk menumbuhkan benih kebaikan. Lakukanlah. Keikhlasan akan mengajarkan kita, seperti yang telah difirmankan-Nya. Bahwa sekecil apapun kebaikan ataupun keburukan maka akan kita tuai balasannya. Baik dalam konteks diri sendiri maupun untuk bangsa ini. Karena setiap kita adalah komponen bangsa yang penting.

Hmm.. Hujan yang mengguyur di pagi ini, semoga juga mengguyur hati kami dengan keimanan. Agar senantiasa bersih, segar dan selalu bersemangat. Sebab hanya hati hati yang bersih yang bisa membersihkan negeri ini dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam apapun bentuknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: