Oleh: ainurbayinah | 10 Januari 2011

Saatnya mengenal “Wakaf”

Wakaf secara etimologi berasal dari bahasa arab “waqf” yang berarti “al- habsu”. Kata ini merupakan mashdar dari kata waqafa, yaqifu, waqfan atau habasa-yahbisu-habsan, dengan jamak awqaf yang berarti menahan atau menghentikan sesuatu dan berdiam di tempat. Kata al-habsu sendiri banyak dipakai di Afrika Utara, kadang-kadang mereka menyebutnya dengan habous, dengan arti yang sama (menahan) (lihat Al-Bakri, 1607 dan Sayyid Sabiq, 1983).

Al-Bakri (1607) dalam kitab I’aanatut Thalibin mendefinisikan wakaf secara istilah, sebagai kegiatan menahan harta yang dapat diambil manfaatnya dengan keabadian dzatnya, serta bisa ditukar pada suatu waktu dengan cara yang diperbolehkan tujuannya. Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, yang artinya:

“Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya,  dan anak sholeh yang mendoakannya.”

Di mana menurut pendapat para Ulama, kata “shadaqah jariyah” pada hadits tersebut adalah wakaf. Pandangan ini senada dengan Sayyid Sabiq yang menjelaskan definisi wakaf secara syara’, dalam kitab Fiqh as-Sunnah, dengan pengertian ‘menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah’.

Mengenai dalil disyari’atkannya wakaf memang tidak secara spesifik disebut dalam Al-Quran, melainkan melalui pemahaman terhadap teks ayat dan juga As-Sunnah, khususnya yang menjelaskan tentang infaq fi sabilillah, antara lain dalam Q.S. al-Baqarah (2): 261, yang Artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Juga seperti pada Q.S. al-Baqarah (2): 267 di mana Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Selain itu, terdapat pula pada Q.S. Ali Imran (3): 92 yang Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Imam Ibnu Hajar Al-Atsqalani (tt.) dalam kitab Buluughul Maraam menuliskan beberapa hadits yang berkaitan dengan wakaf, di antaranya : Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a, (demikian pula diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, al-Nasa’ i, dan Abu Daud) sebagai berikut:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah (pahala) amal perbuatannya kecuali dari tiga hal, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya”

Demikian pula, Hadits Riwayat Bukhari Muslim :

Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faidahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan warisan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, memerdekakan budak, orang yang berperang di jalan Allah, musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kerabat tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”

 Serta, Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah sebagai berikut:

“Di antara amal yang akan ikut seseorang setelah kematiannya adalah ilmu yang disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangunnya, rumah untuk orang yang dalam perjalanan yang dibangunnya, sungai yang dialirkannya, sedekah dari hartanya pada saat sehat dan masa hidupnya yang akan menyusulnya setelah kematiannya.”

Semua ini menjelaskan urgensi wakaf yang memainkan peranan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Baik sebagai pribadi, organisasi, masyarakat, maupun bangsa; serta terkait demikian erat bukan hanya aspek keagamaan seseorang, tapi juga sosial, ekonomi, budaya dan tatanan kehidupan manusia secara utuh. 

Diolah dari berbagai sumber yang disadur dari tesis Ai Nur Bayinah,  Analisis Alternatif Model Investasi Pengelolaan Wakaf Produktif”. Universitas Paramadina. 2010.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: