Oleh: ainurbayinah | 12 Agustus 2011

Mengenal IFRS

Mungkin sebagian dari kita yang bukan berlatarbelakang akuntansi belum mengenal apa itu IFRS. Bahkan mungkin masih ada tmn2 di bidang accounting yang juga belum mengenalnya.. sebagai pengantar.. berikut saya lampirkan standar-standar yang ada dalam IFRS.. IFRS sendiri merupakan singkatan dari International Financial Reporting Standards, yakni acuan standar pelaporan keuangan yang akan digunakan secara global oleh seluruh dunia. penyamaan standar dunia ini, di antaranya untuk memudahkan para investor dalam bertransaksi secara global. Pro kontra masih terjadi. Namun Indonesia direncanakan akan menerapkannya di tahun 2012 nanti. selamat membaca.. ^_^

Oleh: ainurbayinah | 18 Januari 2011

“Kampanye Anti Nyontek”

Pagi ini, saya tiba di kampus tempat saya bekerja lebih awal. Belum genap pukul 08.00. Udara masih dingin. Rerumputan yang terguyur hujan tadi malam menambah teduh kampus kami yang asri. Satu dua mahasiswa sedang duduk-duduk di beranda. Mempersiapkan bahan ujian yang mungkin nanti ditanyakan. Mulai hari ini hingga dua pekan mendatang, kampus kami memang akan melaksanakan ujian akhir semester gasal. Suatu perhelatan yang cukup penting untuk para mahasiswa. Terutama bagi mereka yang mendapat beasiswa. Harapan nilai yang baik tentu menjadi idaman. Sebab bila tidak, bisa jadi beasiswa mereka dihentikan.

Mulai beranjak siang, rekan-rekan kantor sudah berdatangan. Demikian pula mahasiswa. Nampak lengkap memenuhi setiap sudut kampus. Sebagian menyempatkan sholat dhuha terlebih dahulu. Letak masjid kampus kami yang tepat berada di depan halaman kampus, memudahkan kami menjalankan ibadah sunah ini.

Saya pun demikian. Setelah menyalakan komputer dan bersiap. Segera langkah kaki diayunkan menuju masjid. Pemandangan hiruk pikuk mahasiswa mengalihkan perhatian saya. Beberapa dari mereka dengan semangatnya menempelkan spanduk-spanduk anti mencontek di dinding-dinding pengumuman kampus. Bahkan ada spanduk besar yang mengajak ikut serta dalam kampanye ini dengan membubuhkan tanda tangan arti setuju. Beberapa slogan yang mereka buat di antaranya : “Peduli teman BUKAN saat ujian”, “Beasiswa diberikan bukan untuk mencontek”, “Mencontek benih korupsi”, dst.

 

Hal ini mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat kali pertama gerakan ini hendak digulirkan rekan-rekan organisasi mahasiswa di kampus kami. Seorang senior saya di jajaran akademik sempat mempertanyakan urgensi kegiatan ini. “memang di kampus kita masih ada yang mencontek?”, tanya beliau. Saya sendiri sangat paham mengapa pertanyaan ini keluar. Meski sebagian dianggap menyepelekan oleh junior-junior saya kala itu.

Alasannya mungkin sederhana. Dari keseharian mahasiswa misalnya dapat dilihat, tidak ada yang berani mengakui sesuatu yang bukan miliknya. Sebut saja kasus bila ada helm yang tertinggal, atau terlupa, tergeletak di bawah pohon, di emperan masjid atau kelas; uang, jam tangan, flashdisk, dsb. Seperti tidak perlu CCTV… Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami nikmat untuk merasakan indahnya jujur itu…

Meskipun memang tidak semua sesempurna itu. Mungkin memang tidak semua sempurna. Di langkah kami yang sedang belajar beriman, kampanye seperti ini nampaknya memang dibutuhkan. Bukan sekadar karena ada satu dua orang yang belum selurus semangatnya dalam memanifestasikan ajaran Islam dalam kehidupan. Melainkan memang sebagai manusia kita butuh diingatkan. Bukankah seringkali kejahatan terjadi bukan sekedar kemauan, namun juga karena ada kesempatan dan lingkungan yang membentuknya? Saat ini mungkin pembentukan lingkungan itulah yang hendak kami harapkan membentuk pribadi-pribadi kami

Kasus gayus, misalnya, sedikit banyak memperlihatkan kepada kita bagaimana ketidakjujuran telah membudaya secara sistemik di negara kita. Bila tidak dari sekarang kita membenahi diri dan generasi kita dengan budaya yang baik.. mungkin hal ini akan terus berlanjut menjadi permasalahan bangsa yang tiada akhir.

Maka dari itu, sekecil apapun kiprah kita. Sedikit apapun perbuatan kita. Selama itu adalah untuk menumbuhkan benih kebaikan. Lakukanlah. Keikhlasan akan mengajarkan kita, seperti yang telah difirmankan-Nya. Bahwa sekecil apapun kebaikan ataupun keburukan maka akan kita tuai balasannya. Baik dalam konteks diri sendiri maupun untuk bangsa ini. Karena setiap kita adalah komponen bangsa yang penting.

Hmm.. Hujan yang mengguyur di pagi ini, semoga juga mengguyur hati kami dengan keimanan. Agar senantiasa bersih, segar dan selalu bersemangat. Sebab hanya hati hati yang bersih yang bisa membersihkan negeri ini dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam apapun bentuknya.

Oleh: ainurbayinah | 10 Januari 2011

Saatnya mengenal “Wakaf”

Wakaf secara etimologi berasal dari bahasa arab “waqf” yang berarti “al- habsu”. Kata ini merupakan mashdar dari kata waqafa, yaqifu, waqfan atau habasa-yahbisu-habsan, dengan jamak awqaf yang berarti menahan atau menghentikan sesuatu dan berdiam di tempat. Kata al-habsu sendiri banyak dipakai di Afrika Utara, kadang-kadang mereka menyebutnya dengan habous, dengan arti yang sama (menahan) (lihat Al-Bakri, 1607 dan Sayyid Sabiq, 1983).

Al-Bakri (1607) dalam kitab I’aanatut Thalibin mendefinisikan wakaf secara istilah, sebagai kegiatan menahan harta yang dapat diambil manfaatnya dengan keabadian dzatnya, serta bisa ditukar pada suatu waktu dengan cara yang diperbolehkan tujuannya. Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, yang artinya:

“Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya,  dan anak sholeh yang mendoakannya.”

Di mana menurut pendapat para Ulama, kata “shadaqah jariyah” pada hadits tersebut adalah wakaf. Pandangan ini senada dengan Sayyid Sabiq yang menjelaskan definisi wakaf secara syara’, dalam kitab Fiqh as-Sunnah, dengan pengertian ‘menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah’.

Mengenai dalil disyari’atkannya wakaf memang tidak secara spesifik disebut dalam Al-Quran, melainkan melalui pemahaman terhadap teks ayat dan juga As-Sunnah, khususnya yang menjelaskan tentang infaq fi sabilillah, antara lain dalam Q.S. al-Baqarah (2): 261, yang Artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Juga seperti pada Q.S. al-Baqarah (2): 267 di mana Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Selain itu, terdapat pula pada Q.S. Ali Imran (3): 92 yang Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Imam Ibnu Hajar Al-Atsqalani (tt.) dalam kitab Buluughul Maraam menuliskan beberapa hadits yang berkaitan dengan wakaf, di antaranya : Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a, (demikian pula diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, al-Nasa’ i, dan Abu Daud) sebagai berikut:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah (pahala) amal perbuatannya kecuali dari tiga hal, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya”

Demikian pula, Hadits Riwayat Bukhari Muslim :

Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faidahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan warisan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, memerdekakan budak, orang yang berperang di jalan Allah, musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kerabat tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”

 Serta, Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah sebagai berikut:

“Di antara amal yang akan ikut seseorang setelah kematiannya adalah ilmu yang disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangunnya, rumah untuk orang yang dalam perjalanan yang dibangunnya, sungai yang dialirkannya, sedekah dari hartanya pada saat sehat dan masa hidupnya yang akan menyusulnya setelah kematiannya.”

Semua ini menjelaskan urgensi wakaf yang memainkan peranan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Baik sebagai pribadi, organisasi, masyarakat, maupun bangsa; serta terkait demikian erat bukan hanya aspek keagamaan seseorang, tapi juga sosial, ekonomi, budaya dan tatanan kehidupan manusia secara utuh. 

Diolah dari berbagai sumber yang disadur dari tesis Ai Nur Bayinah,  Analisis Alternatif Model Investasi Pengelolaan Wakaf Produktif”. Universitas Paramadina. 2010.

Oleh: ainurbayinah | 10 Januari 2011

Wakaf : Potensi dan Permasalahannya

Wakaf merupakan instrumen pemberdayaan aset masyarakat yang khas dalam ajaran Islam, yang tidak didapati pada sistem sosial ekonomi lainnya. Pembahasan mengenai wakaf akan seiring dengan perbincangan sejarah Islam itu sendiri. Sebab, sejak awal dakwah Rasulullah saw di Madinah, wakaf sudah menjalankan peran penting dalam membantu mendorong kemajuan bukan saja masalah sosial dan ekonomi, namun juga pengembangan peradaban budaya masyarakatnya. Sehingga tidak mengherankan jika pada masa kejayaan Islam, wakaf juga mencapai kejayaannya. Meskipun pengelolaannya masih sangat sederhana.

Optimalisasi peran wakaf dengan demikian sangat perlu untuk digalakkan. Apalagi bila dilihat dari besarnya angka kemiskinan umat Muslim yang terus meningkat setiap tahun. Diprakirakan seperlima penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan di bawah 1 dolar per hari dan lebih dari dua perlimanya hidup tidak jauh dari kemiskinan yang sama dengan pendapatan 2 dolar per hari. (lihat Ahmed, 2004).

Bahkan, jika mencoba mengkalkulasi jumlah masyarakat miskin Indonesia, apabila menggunakan standar Bank Dunia dengan garis kemiskinan dinaikkan menjadi 2 dolar AS sehari, maka angka kemiskinan di Indonesia meningkat tajam menjadi 53,4 persen atau sekitar 114,8 juta jiwa. Angka ini kurang lebih sama dengan jumlah seluruh penduduk Malaysia, Vietnam dan Kamboja. (Setiawan, 2007).

Di tengah problema masyarakat yang demikian pelik tersebut, wakaf diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki perekonomian. Sehingga kajian dan inovasi instrumen wakaf ini, khususnya dalam membantu mengentaskan kemiskinan menjadi sangat penting. Demikian pula penelitian terhadap mekanismenya secara menyeluruh perlu mendapat perhatian serius. Departemen Agama dalam hal ini melalui Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf (2005) juga telah mendorong sosialisasi kepada masyarakat mengenai peredifinisian konsep wakaf agar memiliki makna yang lebih relevan dengan kondisi riil persoalan kesejahteraan masyarakat.

Di antara inovasi yang mulai banyak dikaji sejak tahun 90-an adalah bentuk baru wakaf berupa wakaf uang atau cash-waqf, yakni wakaf dalam bentuk aset bergerak berupa kas dan setara kas. Hal ini telah dipelopori oleh Prof. Dr. M.A. Mannan yang dalam papernya berjudul Cash-Waqf Certificate – An Innovation in Islamic Financial Instrumen : Global Opportunities for Developing Social Capital Market in the 21st Century Voluntary Sector Banking, telah memacu lahirnya gagasan-gagasan untuk memperluas kajian wakaf agar keluar dari kebekuan pemikiran tentang pendayagunaan wakaf. Sehingga wakaf dapat lebih berkembang dengan berbagai program pemanfaatan aset wakaf yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

Wakaf uang yang digagas oleh beliau di Bangladesh adalah wakaf uang yang ditarik dari para waqif (pemberi wakaf) untuk kemudian ditampung dalam institusi berbentuk bank (dengan nama Social Investment Bank Limited, Bangladesh). Dalam prosesnya dana yang terkumpul tersebut diinvestasikan dalam bentuk investasi pada instrumen keuangan Islam yang berisiko kecil. Kemudian keuntungannya (return) disalurkan pada kegiatan-kegiatan sosial. Dengan asumsi bahwa dana pokok wakaf tidak habis dan bukan atas tujuan spesifik (mutlak), serta sesuai dengan landasan fikih tentang mekanisme wakaf.

Mencontoh kesuksesan pelaksanaan sertifikat wakaf uang di Bangladesh tersebut dapat dijadikan pula sebagai acuan untuk pengembangan ekonomi Indonesia. Sebab, potensi wakaf uang ini, sebagaimana dijelaskan oleh Nasution (2005), cukup besar. Dengan asumsi jumlah masyarakat Muslim kelas menengah sebesar 10 juta jiwa dengan rata-rata penghasilan per bulan Rp. 500.000 hingga Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah), maka kita akan mendapati potensi wakaf seperti tabel berikut :

 

Tabel 1.1. Potensi Wakaf uang di Indonesia

Tingkat Penghasilan Per Bulan Jumlah Muslim Tarif Wakaf Per Bulan Potensi Wakaf uang Per Bulan Potensi Wakaf uang Per Tahun

Rp. 500.000,-

4 juta

Rp. 5.000,-

Rp. 20 Milyar

Rp. 240 Milyar

Rp. 1 juta – Rp. 2 juta

3 juta

Rp. 10.000,-

Rp. 30 Milyar

Rp. 300 Milyar

Rp. 2 juta – Rp. 5 juta

2 juta

Rp. 50.000,-

Rp. 100 Milyar

Rp. 1,2 Triliun

Rp. 5 juta – Rp.10 juta

1 juta

Rp.100.000,-

Rp. 100 Milyar

Rp. 1,2 Triliun

Total

Rp. 3 Triliun

Sumber : Mustafa Edwin Nasution, Wakaf uang dan Sektor Volunteer : Strategi untuk Mensejahterakan Masyarakat dan Melepaskan Ketergantungan Hutang Luar Negeri, 2005. hlm. 44-45.

 Berdasarkan tabel di atas potensi dana terkumpul berarti sekitar 3 Triliun Rupiah per tahun dari wakaf uang. Bahkan sedikitnya 1,2 triliun per tahun dapat terkumpul dari dana wakaf, sekalipun hanya 1 juta saja dari masyarakat Muslim Indonesia yang mewakafkan dananya sebesar Rp.100.000,- setiap bulan.

Jika dana tersebut diinvestasikan dengan tingkat return sebesar 10 persen per tahun maka akan diperoleh penambahan dana wakaf sebesar Rp. 10 milyar setiap bulannya, atau Rp. 120 milyar per tahun (Setiawan, 2004). Suatu jumlah yang signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya masyarakat miskin, dan untuk pengembangan aset wakaf (benda) itu sendiri, baik berupa bantuan pemeliharaan, pengelolaan, dan peningkatan aset wakaf.

Di Indonesia, wakaf yang dikelola secara produktif masih sangat sedikit jumlahnya. Sebagai contoh wakaf produktif adalah perwakafan tanah untuk Pondok Modern Gontor. Di mana tanah wakaf berupa sawah dan tanah kering di sekitar pondok, mendatangkan hasil yang seluruhnya digunakan untuk membiayai lembaga pendidikan beserta santrinya Sedangkan selebihnya wakaf umumnya bersifat konsumtif yang berupa aset tetap seperti masjid, sekolah, panti asuhan, rumah sakit dan tempat pemakaman. Karena bersifat konsumtif, timbul permasalahan mengenai biaya pemeliharaan yang perlu dicari sumber dana lainnya melalui wakaf produktif. (lihat Ali, 2006).

Berdasarkan data Departemen Agama (2008), jumlah seluruh tanah wakaf di Indonesia tersebar di 403.845 lokasi dengan luas tanah sebesar 1.566.672.406 M2. Jumlah yang jauh lebih luas bila dibandingkan dengan negara Singapura. Di mana aset wakaf ini tentu membutuhkan banyak dana untuk pengelolaannya. Di samping untuk mendayagunakan aset wakaf agar dapat terus menerus digunakan secara publik, dana tersebut juga dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas aset wakaf agar lebih bernilai ekonomis.

Di sinilah mengapa investasi atas dana wakaf perlu dikaji dengan lebih intens. Apalagi saat ini berkembang inovasi penghimpunan dana wakaf berupa wakaf uang dan juga wakaf melalui uang – yakni wakaf berupa uang yang dimaksudkan untuk membantu pengembangan dan pengelolaan wakaf secara lebih produktif dalam bentuk pembelian aset-aset pendukung dari aset inti wakaf, seperti donasi wakaf berupa uang yang dibelikan semen untuk pembangunan masjid, dan sebagainya –. Sehingga tujuan dari wakaf itu sendiri dapat tercapai. Karena seharusnya, menurut Al-Suwailem (2009), for each dollar spent by non-profits, $8 are generated in direct economic and social returns. Namun sayang pada praktiknya output yang diinginkan ini belum sepenuhnya terlaksana.

Berbagai kendala dan hambatan dihadapi oleh organisasi pengelola wakaf sehingga belum optimal memberdayakan dana wakafnya dalam bentuk investasi produktif. Juwaini (2009) mengutip hasil survei yang dilakukan Universitas Islam Negeri (UIN) menunjukkan bahwa 74% pengelola wakaf (nadzir) tidak dapat memproduktifkan aset wakaf.

Hasil survei tersebut memperlihatkan besarnya selisih antara kenyataan dengan harapan terhadap pengembangan aset wakaf sebagaimana seharusnya. Padahal berdasarkan catatan dari penerimaan wakaf secara lokal di Dompet Dhuafa saja (sebagai salah satu organisasi profesional pengelola zakat, infak, shadaqah dan wakaf), memprediksikan potensi wakaf uang di Indonesia sebesar 591 Milyar per tahun (dihitung dengan mengacu pada Laporan Keuangan Dompet Dhuafa Republika, 1429 H, audited).

Memang tidak mudah menyatukan gap ini. Banyak hal yang perlu dibenahi. Budaya, orientasi, birokrasi, manajemen, serta segenap infrastuktur lainnya. Namun permasalahan ini jelas bukan hanya tanggung jawab pemerintah, meski tidak menapikkan keharusannya menjaga hajat hidup seluruh rakyat. Perhatian kita bersama akan sangat dibutuhkan; memberi solusi terbaik untuk bangsa ini. Jika saja setiap kita mempunyai kepedulian terhadap masalah kemiskinan yang demikian pelik terjadi di masyarakat, mungkin potensi wakaf yang cukup besar tersebut benar akan menjadi sebagian besar solusi yang sangat membantu meringankan beban bangsa yang telah cukup berat. wallahu a’lam.

 

Source : Ai Nur Bayinah, “Analisis Alternatif Model Investasi Pengelolaan Wakaf Produktif”. Tesis. Universitas Paramadina. 2010.

Oleh: ainurbayinah | 6 Januari 2011

Yuk Berwakaf…

 Wakaf, mungkin kata ini sudah sangat populer di tengah-tengah kita.

Namun seringkali, kata tersebut hanya terkait pada bangunan ibadah atau pun tempat pemakaman saja… padahal ruang lingkupnya sejak lama telah demikian meluas.

Hasanah (2005) mengutip dari Hasan Langgunung, memaparkan perkembangan wakaf pada masa keemasannya di abad ke-8 dan ke-9 Hijriyah. Pada saat itu, wakaf meliputi berbagai harta benda, yakni masjid, mushalla, sekolah, tanah pertanian, rumah, toko, kebun, pabrik roti, bangunan kantor, gedung pertemuan dan perniagaan, bazaar, pasar, bahkan tempat pemandian, tempat pemangkas rambut, gudang beras, pabrik sabun, pabrik penetasan telur dan lain sebagainya.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berwakaf… karena esensi dari wakaf adalah keberlangsungan manfaat yang bisa diambil dari sesuatu yang diwakafkan tersebut…

Melalui blog ini… ajakan memperbarui lingkup wakaf menjadi lebih luas digaungkan.. dengan harapan semoga kondisi bangsa ini menjadi lebih baik.. dengan adanya atmosfer untuk senantiasa menyebarkan kebaikan kemana pun dan dalam bentuk apapun…

yuk berwakaf… karena siapapun bisa berwakaf dengan dan untuk tujuan apapun, selama itu adalah kebaikan dan bermanfaat; untuk masa depan yang lebih baik.

Kategori