Oleh: ainurbayinah | 10 Januari 2011

Wakaf : Potensi dan Permasalahannya

Wakaf merupakan instrumen pemberdayaan aset masyarakat yang khas dalam ajaran Islam, yang tidak didapati pada sistem sosial ekonomi lainnya. Pembahasan mengenai wakaf akan seiring dengan perbincangan sejarah Islam itu sendiri. Sebab, sejak awal dakwah Rasulullah saw di Madinah, wakaf sudah menjalankan peran penting dalam membantu mendorong kemajuan bukan saja masalah sosial dan ekonomi, namun juga pengembangan peradaban budaya masyarakatnya. Sehingga tidak mengherankan jika pada masa kejayaan Islam, wakaf juga mencapai kejayaannya. Meskipun pengelolaannya masih sangat sederhana.

Optimalisasi peran wakaf dengan demikian sangat perlu untuk digalakkan. Apalagi bila dilihat dari besarnya angka kemiskinan umat Muslim yang terus meningkat setiap tahun. Diprakirakan seperlima penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan di bawah 1 dolar per hari dan lebih dari dua perlimanya hidup tidak jauh dari kemiskinan yang sama dengan pendapatan 2 dolar per hari. (lihat Ahmed, 2004).

Bahkan, jika mencoba mengkalkulasi jumlah masyarakat miskin Indonesia, apabila menggunakan standar Bank Dunia dengan garis kemiskinan dinaikkan menjadi 2 dolar AS sehari, maka angka kemiskinan di Indonesia meningkat tajam menjadi 53,4 persen atau sekitar 114,8 juta jiwa. Angka ini kurang lebih sama dengan jumlah seluruh penduduk Malaysia, Vietnam dan Kamboja. (Setiawan, 2007).

Di tengah problema masyarakat yang demikian pelik tersebut, wakaf diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki perekonomian. Sehingga kajian dan inovasi instrumen wakaf ini, khususnya dalam membantu mengentaskan kemiskinan menjadi sangat penting. Demikian pula penelitian terhadap mekanismenya secara menyeluruh perlu mendapat perhatian serius. Departemen Agama dalam hal ini melalui Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf (2005) juga telah mendorong sosialisasi kepada masyarakat mengenai peredifinisian konsep wakaf agar memiliki makna yang lebih relevan dengan kondisi riil persoalan kesejahteraan masyarakat.

Di antara inovasi yang mulai banyak dikaji sejak tahun 90-an adalah bentuk baru wakaf berupa wakaf uang atau cash-waqf, yakni wakaf dalam bentuk aset bergerak berupa kas dan setara kas. Hal ini telah dipelopori oleh Prof. Dr. M.A. Mannan yang dalam papernya berjudul Cash-Waqf Certificate – An Innovation in Islamic Financial Instrumen : Global Opportunities for Developing Social Capital Market in the 21st Century Voluntary Sector Banking, telah memacu lahirnya gagasan-gagasan untuk memperluas kajian wakaf agar keluar dari kebekuan pemikiran tentang pendayagunaan wakaf. Sehingga wakaf dapat lebih berkembang dengan berbagai program pemanfaatan aset wakaf yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

Wakaf uang yang digagas oleh beliau di Bangladesh adalah wakaf uang yang ditarik dari para waqif (pemberi wakaf) untuk kemudian ditampung dalam institusi berbentuk bank (dengan nama Social Investment Bank Limited, Bangladesh). Dalam prosesnya dana yang terkumpul tersebut diinvestasikan dalam bentuk investasi pada instrumen keuangan Islam yang berisiko kecil. Kemudian keuntungannya (return) disalurkan pada kegiatan-kegiatan sosial. Dengan asumsi bahwa dana pokok wakaf tidak habis dan bukan atas tujuan spesifik (mutlak), serta sesuai dengan landasan fikih tentang mekanisme wakaf.

Mencontoh kesuksesan pelaksanaan sertifikat wakaf uang di Bangladesh tersebut dapat dijadikan pula sebagai acuan untuk pengembangan ekonomi Indonesia. Sebab, potensi wakaf uang ini, sebagaimana dijelaskan oleh Nasution (2005), cukup besar. Dengan asumsi jumlah masyarakat Muslim kelas menengah sebesar 10 juta jiwa dengan rata-rata penghasilan per bulan Rp. 500.000 hingga Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah), maka kita akan mendapati potensi wakaf seperti tabel berikut :

 

Tabel 1.1. Potensi Wakaf uang di Indonesia

Tingkat Penghasilan Per Bulan Jumlah Muslim Tarif Wakaf Per Bulan Potensi Wakaf uang Per Bulan Potensi Wakaf uang Per Tahun

Rp. 500.000,-

4 juta

Rp. 5.000,-

Rp. 20 Milyar

Rp. 240 Milyar

Rp. 1 juta – Rp. 2 juta

3 juta

Rp. 10.000,-

Rp. 30 Milyar

Rp. 300 Milyar

Rp. 2 juta – Rp. 5 juta

2 juta

Rp. 50.000,-

Rp. 100 Milyar

Rp. 1,2 Triliun

Rp. 5 juta – Rp.10 juta

1 juta

Rp.100.000,-

Rp. 100 Milyar

Rp. 1,2 Triliun

Total

Rp. 3 Triliun

Sumber : Mustafa Edwin Nasution, Wakaf uang dan Sektor Volunteer : Strategi untuk Mensejahterakan Masyarakat dan Melepaskan Ketergantungan Hutang Luar Negeri, 2005. hlm. 44-45.

 Berdasarkan tabel di atas potensi dana terkumpul berarti sekitar 3 Triliun Rupiah per tahun dari wakaf uang. Bahkan sedikitnya 1,2 triliun per tahun dapat terkumpul dari dana wakaf, sekalipun hanya 1 juta saja dari masyarakat Muslim Indonesia yang mewakafkan dananya sebesar Rp.100.000,- setiap bulan.

Jika dana tersebut diinvestasikan dengan tingkat return sebesar 10 persen per tahun maka akan diperoleh penambahan dana wakaf sebesar Rp. 10 milyar setiap bulannya, atau Rp. 120 milyar per tahun (Setiawan, 2004). Suatu jumlah yang signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya masyarakat miskin, dan untuk pengembangan aset wakaf (benda) itu sendiri, baik berupa bantuan pemeliharaan, pengelolaan, dan peningkatan aset wakaf.

Di Indonesia, wakaf yang dikelola secara produktif masih sangat sedikit jumlahnya. Sebagai contoh wakaf produktif adalah perwakafan tanah untuk Pondok Modern Gontor. Di mana tanah wakaf berupa sawah dan tanah kering di sekitar pondok, mendatangkan hasil yang seluruhnya digunakan untuk membiayai lembaga pendidikan beserta santrinya Sedangkan selebihnya wakaf umumnya bersifat konsumtif yang berupa aset tetap seperti masjid, sekolah, panti asuhan, rumah sakit dan tempat pemakaman. Karena bersifat konsumtif, timbul permasalahan mengenai biaya pemeliharaan yang perlu dicari sumber dana lainnya melalui wakaf produktif. (lihat Ali, 2006).

Berdasarkan data Departemen Agama (2008), jumlah seluruh tanah wakaf di Indonesia tersebar di 403.845 lokasi dengan luas tanah sebesar 1.566.672.406 M2. Jumlah yang jauh lebih luas bila dibandingkan dengan negara Singapura. Di mana aset wakaf ini tentu membutuhkan banyak dana untuk pengelolaannya. Di samping untuk mendayagunakan aset wakaf agar dapat terus menerus digunakan secara publik, dana tersebut juga dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas aset wakaf agar lebih bernilai ekonomis.

Di sinilah mengapa investasi atas dana wakaf perlu dikaji dengan lebih intens. Apalagi saat ini berkembang inovasi penghimpunan dana wakaf berupa wakaf uang dan juga wakaf melalui uang – yakni wakaf berupa uang yang dimaksudkan untuk membantu pengembangan dan pengelolaan wakaf secara lebih produktif dalam bentuk pembelian aset-aset pendukung dari aset inti wakaf, seperti donasi wakaf berupa uang yang dibelikan semen untuk pembangunan masjid, dan sebagainya –. Sehingga tujuan dari wakaf itu sendiri dapat tercapai. Karena seharusnya, menurut Al-Suwailem (2009), for each dollar spent by non-profits, $8 are generated in direct economic and social returns. Namun sayang pada praktiknya output yang diinginkan ini belum sepenuhnya terlaksana.

Berbagai kendala dan hambatan dihadapi oleh organisasi pengelola wakaf sehingga belum optimal memberdayakan dana wakafnya dalam bentuk investasi produktif. Juwaini (2009) mengutip hasil survei yang dilakukan Universitas Islam Negeri (UIN) menunjukkan bahwa 74% pengelola wakaf (nadzir) tidak dapat memproduktifkan aset wakaf.

Hasil survei tersebut memperlihatkan besarnya selisih antara kenyataan dengan harapan terhadap pengembangan aset wakaf sebagaimana seharusnya. Padahal berdasarkan catatan dari penerimaan wakaf secara lokal di Dompet Dhuafa saja (sebagai salah satu organisasi profesional pengelola zakat, infak, shadaqah dan wakaf), memprediksikan potensi wakaf uang di Indonesia sebesar 591 Milyar per tahun (dihitung dengan mengacu pada Laporan Keuangan Dompet Dhuafa Republika, 1429 H, audited).

Memang tidak mudah menyatukan gap ini. Banyak hal yang perlu dibenahi. Budaya, orientasi, birokrasi, manajemen, serta segenap infrastuktur lainnya. Namun permasalahan ini jelas bukan hanya tanggung jawab pemerintah, meski tidak menapikkan keharusannya menjaga hajat hidup seluruh rakyat. Perhatian kita bersama akan sangat dibutuhkan; memberi solusi terbaik untuk bangsa ini. Jika saja setiap kita mempunyai kepedulian terhadap masalah kemiskinan yang demikian pelik terjadi di masyarakat, mungkin potensi wakaf yang cukup besar tersebut benar akan menjadi sebagian besar solusi yang sangat membantu meringankan beban bangsa yang telah cukup berat. wallahu a’lam.

 

Source : Ai Nur Bayinah, “Analisis Alternatif Model Investasi Pengelolaan Wakaf Produktif”. Tesis. Universitas Paramadina. 2010.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: